Jumat, 15 Mei 2009

Weekend Destinations

Benar juga peribahasa "Kuman di seberang lautan tampak, Gajah di pelupuk mata tak tampak".
Bagaimana tidak, setiap akhir pekan datang, saya selalu bingung mencari tempat bermain buat Razka, jatuhnya ke mal lagi, mal lagi, meski sampai ujung barat ya dilakoni.
Lama-lama saya pikir hal ini tidak terlalu baik bagi Razka dan kantong ayah bundanya hehehehe.... Maunya sih cari taman bermain seperti di film-film luar negeri itu lho.... nyaman dan murah tentunya :D

Tapi minggu ini *twink twink* mendadak ada ide bagus yang perlu dicoba, saya ajak ayah dan keponakan serta sepupu saya [Raul & Raka] yang berumur 8 tahun untuk menemani Razka bermain, ternyata pula... saya tidak perlu pergi jauh-jauh, taraaaa.....

Kandank Jurang Doank
Letaknya hanya 2km dari rumah kami di selatan Jakarta ini [bukan Jakarta Selatan ya... :)]
Memasuki areal bermain, kami disambut oleh tumpukan batu yang disusun dan digambar sedemikian rupa sehingga menyerupai patung orang. Sampai di kawasan Kandank Jurang Doang, anak-anak pasti gak sabar berlarian di stadion mini. Disini kami tidak hanya bermain berlarian di lapangan mini bola yang cukup luas, tapi juga naik becak mini --bagian ini paling digemari Razka-- namun sepertinya becak mini ini adalah bagian dari dekorasi, jadi permainan dilanjutkan ke tempat lain dengan berjalan sedikit ke bawah, dimana terdapat panggung theater mini dengan patung Dewi Sri [apa Drupadi ya?] yang besar. Di bagian ini Razka sangat excited, lari kesana-kemari serasa perform di panggung yang besar kali ya.... heheheh
Bosan di panggung theater, Razka kami ajak bermain prosotan dan flying fox kecil, tapi permainan ini hanya bisa dinikmati sepupu dan 'oom'nya, karena Razka belum berani bergantung dan manjat, gak apa nak... sebentar lagi juga bisa kamu kuasai ;p
Razka asik mondar-mandir menjelajah setiap sudut area, sampai akhirnya dia menggamit tangan bundanya dan mengajak ke kolong sebuah rumah panggung mini, oh... ternyata ada warung mini dan sederhana yang menyediakan kebutuhan perut seperti susu kotak kecil, mie instan, serta 'gorengan', hmmmm lapar ya nak? tenang... bunda bawa perbekalan kok, karena bunda gak siap buat jajan nih *nyengir dulu ach*
Untung perhatian Razka bisa kami alihkan dari jajanan, eksplor ke arah lebih dalam, di bagian ini Kandank Jurang Doank dirancang oleh Dik Doank sebagai tempat mini outbound, meski tidak terlalu besar tapi cukup untuk memuaskan anak-anak ber'outbound' ria, ada flying fox, panjat tebing, danau kecil untuk bersampan, tempat memandikan kerbau, serta bentangan sawah yang siap menerima sentuhan tangan-tangan mungil pencinta alam.
Raul dan Raka sempat mencoba panjat tebing, sayang hujan turun, dan kami berteduh sejenak di bale-bale bawah rumah panggung sampai akhirnya memutuskan untuk pulang karena hujan yang tak kunjung reda.

Benar kan...? selama ini kok saya selalu merancang liburan akhir pekan dengan menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer yang memakan waktu minimal 1,5 jam perjalanan, belum kalau macet, hal ini tentunya sudah membuat Razka kelelahan sebelum sampai tujuan. Padahal banyak tempat menarik dan murah di sekitar rumah kami.

Hmmmm our next destinations are [masih di sekitaran rumah kami juga sih...]
- Tanah Tingal
- Taman Kota BSD [ini sih sudah cukup sering deh, sekalian bundanya bekanja di Pasar Modern ;p]
- Kawasan Berkuda Bintaro Sektor IX
- Outbound Mini Puspo

apalagi ya....? hunting dulu ach, untuk melengkapi list

Sabtu, 07 Februari 2009

Ayo masak duyu....




Nah mumpung Razka bangun siang dan masih ditemani ayah di kamar, dan Mbak Yanti --asisten bunda yang pulang hari-- sudah datang, kesempatan nih buat masak, yang gampang aja sih, teuteup.... :)
Lihat lemari persediaan dan kulkas. Hmmm masih ada macaroni, sedikit kacang polong beku, daging asap, dan susu cair milik ayah. Sepertinya cukup buat bikin menu sarapan, macaroni schotel.

Begini cara ringkasnya:
- rendam macaroni dengan air panas [biarkan sampai sedikit empuk, jangan terlalu lembik, nanti hancur]
- tumis bawang bombay dan bawang putih pakai mentega sampai harum
- masukkan potongan daging asap dan kacang polong yang telah direndam air panas
- sisihkan lalu siapkan pinggan tahan panas
- campur tumisan daging asap dan kacang polong, macaroni, susu cair, garam, merica, sedikit gula, serta kocokan telur sampai mendidih
- pindahkan ke pinggan tahan panas dan panggang selama 10 menit
- sajikan dengan cocolan saus sambal dan taburan keju parut

Razka sudah menanti jatah nih :)

hmmmm.... mau coba? hayyyuuuuu....

Jumat, 23 Januari 2009

Pasca Tanpa Pengasuh

Sebulan sudah tanpa pengasuh untuk Razka, sebenarnya sih ada enak tidaknya ya...
Enaknya ya... Razka jadi diawasi oleh orang-orang terpercaya dan menyayanginya dengan tulus. Gak enaknya ya... jadi ngerepotin sang Oma, kemana-mana Razka harus di'tenteng' dan jadi gak bisa lagi coba-coba resep kudapan kegemaran saya --maaf friends absen dulu yeee--

Yach c'est la vie... there's always up and down, good and bad. Ambil hikmahnya, teuteup...

--Saya masih menimbang-nimbang untuk cari pengasuh baru--

Senin, 05 Januari 2009

Asisten och asisten...

Bulan Desember lalu jadi momen cuti buat saya, hehehehe.... banyak hari kejepit sih. Kebetulan saya sedang kesulitan mendapatkan pengasuh untuk Razka sejak Mbak Puji pulang kampung untuk melahirkan awal bulan lalu.

Pencarian pertama, ketemu asisten muda berumur 19 thn yang katanya sudah berpengalaman mengasuh, maksudnya sih memang tandem dulu, mumpung Puji belum pulang. Seminggu dievalusi, hasilnya lebih banyak online dengan hp pribadinya. Duh "miss ring-ring" nih, dari saya pulang kantor, mandi, makan malam, masuk kamar ngeloni Razka, giliran dia makan malam baru dia berhenti online. Akhirnya dia pamit, alasannya gak bisa pegangn anak yang masih terlalu kecil, gak bisa disambi, dia harud ngikutin dan ngawasin terus, "jadi tugas saya kaya' ibunya aja". Yo weis lebih baik pamit saja deh.

Beberapa hari kemudian datang seorang ibu usia 36 th, anak yang paling kecil di kampung usia 8 th. Dua hari di rumah, kata Puji nangis terus inget anaknya. Ya sudah pulang lagi.

Seminggu kemudian, ada salah satu kerabat jauhnya Puji minta-minta pekerjaan apa aja, ngasuh boleh, tapi dia masih umur 14 thn, fresh banget deh, belum bisa apa-apa. Oke lah masih ada 2 minggu sebelum Puji pulang jadi masih bisa ngajarin dulu. Akhirnya awal Desember kemarin, Puji dengan berat hati pamit, tinggalah Rum yang --aku rasa-- sudah cukup bekal buat ngasuh dari Puji. Semua berjalan lancar, Rum mau belajar dan akhirnya bisa dekat sama Razka, nyuapin pun bisa dilalui dengan sukses.

Minggu ke lima Rum di rumah, saya pun terpaksa memberhentikan Mbak Yati karena pekerjaan rumahnya sangat "seadanya" dan sebisanya dengan standar "asal" dikerjain. Lama-lama suami kesal juga karena setiap pagi harus setrika ulang semua baju kerja. Sebelum berhenti Mbak Yati kasih info kalau di tas nya Rum ada mi instant dan meises kami. Saya hanya bisa mencoba bersikap se-obyektif mungkin. Ketika Rum mengajak jalan Razka, maka kesempatan saya untuk periksa tasnya, voila bukan hanya mi instan tapi juga sendok garpu pisau makan terbungkus dengan plastik hitam, piring, pulpen, mainan Razka. Pulang dari mengajak jalan Razka, Rum saya ajak bicara baik-baik dan dia sangat menyesali perbuatannya serta berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Akhirnya sampai di akhir bulan Desember, waktunya gajian, begitu juga dengan Rum.

Jumat 26 Desember, pulang dari kantor, Razka minta main naik becak, akhirnya saya minta Rum untuk anter ke rumah Oma, firasat saya kok gak enak ya... dengan terpaksa saya cek laci baju yang baru saja saya berikan untuk menyimpan pakaian Rum, walah ada beberapa keping emping dan biskuit Razka tergeletak di sela-sela bajunya. Ternyata seminggu dari janjinya terucap, kejadian mengutil terulang, ternyata Rum tidak jera atau memang dia mengidap sindrom clepto ya.... Malamnya saya telpon kerabatnya untuk menjemput, meski Rum telihat sangat menyesali perbuatannya dan keberatan untuk meninggalkan rumah saya, tapi saya juga sulit untuk percaya, daripada saya gak tenang.

Disaat bersamaan dengan penjemputan Rum, kerabatnya menawarkan saudara lainnya yang juga seumuran Rum, namanya Nur. Setelah berpikir akhirnya saya terima, dengan catatan harus jujur dan mau belajar.

Tiga hari kemudian, Nur minta libur, ok saya beri ijin, keesokannya dia datang dan bilang mau berhenti aja dengan alasan yang tidak masuk akal, katanya Razka gak mau sama dia, dan tetek bengek lainnya. Tidak mau terlibat urusan lebih jauh lagi, saya minta dia bergegas membereskan pakaian plus sedikit wejangan.

Saya kecewa, pusing dan trauma, saat ini saya memilih untuk tidak punya pengasuh untuk Razka, lebih baik saya titip Razka di Sang Oma, sambil nambahin penghasilan bulanan PRT-nya Oma deh, toh rumah kami tidak berjauhan. Pulang kantor saya akan jemput Razka.

Razka sayang... sementara antar jemput dulu ya nak...
Maafkan bunda ya... belum bisa jadi A Good FTM.

Kini saya mulai merasakan keluh kesah bunda lainnya dalam mencari asisten yang baik untuk buah hatinya.

Asisten och asisten...
Ech tapi ada hikmahnya juga, ayah jadi lebih sering bangun pagi, aware dan mau involve dalam kegiatan pengasuhan Razka, membantu bunda yang suka uring2an. :)

Selasa, 16 Desember 2008

Me Time


Setelah 1,5 tahun lebih, akhirnya saya tega mengambil jatah "me time" dari Razka. "Titip Razka sebentar ya bu..." ujar saya penuh harap. "Iyaaaa..." jawab sang oma dengan mata penuh binar bahagia.

Pagi-pagi Razka sudah dijemput oma sambil jalan-jalan dengan strollernya. "Biar gak klayu, dan kalian juga perginya enak" ujar oma. "Oke deh bu...." untung juga rumah kami tidak terlalu jauh, jadi urusan titip menitip ini jadi lebih mudah, tapi baru kali ini kami menitipkan Razka di weekend.

Sebenarnya kami tidak ingin pergi jauh tapi hanya weekend ini kami punya waktu cukup berdua atau sekadar ngajak jalan anak-anaknya ayah yang sudah remaja dan tidak sejalan dengan arah bermainnya Razka. Apalagi bawa Razka perlu usaha khusus dan gak bisa disambi-sambi. sedangkan kali ini kami ingin memanfaatkan hadiah voucher nonton bioskop dari salah satu media cetak terkemuka di Indonesia sebagai tanda terima kasih karena saya telah mengisi questionaire yang mereka sebarkan.

Sebelum pergi, saya sempatkan membuat Cheese Brown Bread Pudding buat kudapan sore Razka. Hmmm.... dari baunya saja sudah terbayang kelezatannya, perpaduan roti keju plus taburan palm sugar dan cinamon membuat pudding roti ini lain dari yang lain. Sebenarnya ini resep turunan oma yang saya modif sedikit, sesuai jaman dunk... hahahahah....

Kami putuskan untuk menyaksikan film Twilight yang "box office" itu, apalagi saya sempat baca kutipan novel hasil besutan Stephenie Meiyer ini.
Karena memang sudah janji sama Imut, ayah memutuskan untuk jalan-jalan saja dengan Dandy, saya, Imut dan Mbak Nita yang akhirnya nonton film ini.

Keluar dari bioskop, saya masih terpesona dengan pemandangan di film tadi, it's so beautiful scenery and looks so cold, brrrr. Sebenarnya ini benar-benar film yang bercerita tentang romansa remaja. Tapi gak tau kenapa ada satu 'frame' yang membuat saya begitu terpana. Yaitu ketika sekelompok bangsa 'vampire' ini menerima seorang manusia dan melindunginya dari kelompok vampire lainnya, how sweet and very gentlemen. Saya seperti melihat ada kekuatan cinta, pengorbanan, dan kelembutan di balik sosok yang garang dan tatapan misterius.

Huahahaha saya mulai tersihir dalam alur cerita film. Saya tiba-tiba merasakan seperti ada sesuatu yang sudah lama tidak saya rasakan meski tidak hilang. Jelas, saya mungkin hampir kehilangan sisi romantisme saya. Saya merasa telah terlalu tua untuk ber-roman-roman ria, padahal saya merindukannya dan penting untuk membuat hidup saya lebih bergairah.

Achhh.... saya melamunkan masa 'muda' dulu, och.....

Back to film, dan singkatnya saya seperti kembali menyaksikan "Buffy the Vampire Slayer" dan "Harry Potter" menjadi satu as technically and romantically. Huuuuu.....

Och Edward and Bella, you both looks so gorgeous and perfectly match. :D

Intinya, "me time" saya kali ini membuat saya melamun-lamun dan kangen pengen bisa nonton di bioskop lagi [lho???!!!].

-termehek-mehek deh-

Jumat, 12 Desember 2008

Masa

Senja kan menjelang
Birunya berganti lembayung
Kehangatan siang menghilang
Dingin malam kan datang

Usia pun beranjak tua
Meski belum bergigi dua :p
Masihkah asa bersua
Meski tak mungkin mendua

Waktu selalu berdetik
Panas dingin menggigit
Hatipun selalu tergelitik
Jemaripun ingin mengetik
Agar air mata tak menitik

Kemana lagi diri mengeluh?
Hanya padaMu daku mengadu
Agar hati tak lagi kelu
Apakah harus terserah waktu?
Siapa yang tahu?

Wallahualam bi assawab

Kamis, 11 Desember 2008

My Social Act


Sebagai good corporate citizen, BII juga aktif ambil bagian dalam mengembangkan program pengembangan masyarakat. Sebagai bentuk kontribusi dan tanggung jawab BII terhadap pengembangan masyarakat, sejak 2006 BII telah bekerjasama dengan United Nations World Food Programme (WFP) dalam program pemberian makanan bergizi kepada anak-anak sekolah (School Feeding Program) dengan menyediakan dana untuk memproduksi dan mendistribusikan biskuit bergizi (fortified biscuits) kepada lebih dari 5.000 anak sekolah dasar. Program ini ditujukan untuk membantu meningkatkan gizi anak-anak serta memberikan edukasi tentang gizi dan makanan sehat dengan melibatkan partisipasi karyawan BII.

Selanjutnya, kegiatan CSR BII akan difokuskan pada upaya-upaya meningkatkan kualitas anak-anak dan generasi muda melalui pemenuhan kebutuhan pangan, peningkatan gizi, pendidikan dan kesehatan. Pemilihan anak sebagai penerima manfaat (beneficiary) program CSR BII didasarkan pada pertimbangan bahwa anak-anak adalah masa depan bangsa dan kontribusi yang diberikan BII dalam membantu mewujudkan cita-cita mereka akan lebih optimal mengingat mereka sedang dalam masa pertumbuhan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari “BII Berbagi”, yang merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility-CSR) BII. CSR tidak hanya merupakan tindakan kedermawanan (philanthropic actions), seperti donasi tetapi lebih merupakan keseluruhan kebijakan, tindakan nyata serta nilai-nilai dan perilaku perusahaan dalam hubungannya dengan stakeholder utama, termasuk karyawan, pemasok, pemerintah, nasabah dan masyarakat.

Di BII, CSR adalah perwujudan yang melandasi strategi perusahaan dalam mencapai visi seperti dikemukakan dalam kalimat singkat, “Di dalam segala aktivitas, kami akan menjadi perusahaan yang bertanggungjawab dan memberikan sumbangsih terhadap pengembangan masyarakat”.

Saya, sebagai salah satu karyawan institusi ini, merasa bangga diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan CSR yang diselenggarakan, bahkan saya juga diberi tanggung jawab untuk mengemban tugas sebagai Kordinator CSR di perusahaan tempat saya bekerja.

Dengan begitu saya dapat turut merasakan kehidupan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang beruntung. Artinya saya diberi masa untuk terus mensyukuri kenikmatan hidup yang telah diberikan Tuhan sang Pencipta Semesta Alam selama ini. Dan bagaimana saya juga mendapatkan pencerahan untuk lebih dapat merencanakan kehidupan masa depan saya dan keluarga, terutama bagi sang buah hati, M. Razka Naratama.

Mengingat fokus kegiatan ini pada upaya-upaya meningkatkan kualitas anak-anak dan generasi muda melalui pemenuhan kebutuhan pangan, peningkatan gizi, pendidikan dan kesehatan, otomatis saya jadi banyak berinteraksi dengan anak-anak. Entah itu di rumah sakit atau bila sedang berbagi ilmu dengan mereka di sekolah pinggiran Jakarta maupun pelosok.

Terharu rasanya setiap melihat tatapan lugu dan celotehan polos mereka. Anak-anak memang tetap anak-anak, bagaimanapun susahnya keadaan orang tua mereka, tapi wajah mereka tetap memancarkan keceriaan dan semangat menghalau segala rintangan yang ada di depan mereka. Sebuah ekspresi semangat juang yang tiada terputus.

Pernah di satu kesempatan edukasi saya berjumpa dengan siswa sekolah dasar dari sekolah Internasional. Saya kagum dan takjub dengan produk modern ini, kritis, cerdas, berwawasan, namun terpancar pula sebuah keangkuhan. Miris juga rasanya bila nilai-nilai moral harus pergi dari keluguan seorang anak. Berbeda dengan ketika saya harus menjumpai anak-anak dari lingkungan yang lebih bersahaja, kalau tidak bisa dibilang sangat sederhana, sambutan mereka terhadap kehadiran kami lebih antusias, dan santun, bukan mereka kurang pintar, tapi kurang kesempatan. Hal ini lah yang saya ingin bagi, penyebaran ilmu disertai sentuhan ketulusan berbagi.

Kegiatan kemanusiaan ini --memang dan harapan saya-- dapat menjadi ladang amal yang luas bagi saya dan rekan-rekan lainnya. Apalah kami, datang dari rank of file sebuah perusahaan besar, kami belum dapat mengucurkan dana besar untuk membangun sebuah infrastruktur, tenaga dan pikiran lah yang dapat kami curahkan.

Semoga bermanfaat. Amiin.