Minggu, 21 Oktober 2012

Spicy Garlic Fetucini

Hmmm harusnya sih spaghetti, tapi stok yang ada adalah fetucini jadi ya sudah... toh sama-sama pasta. Berawal dari keinginan sarapan dengan menu food combining pati tapi bukan nasi, sekaligus jadi teman menu sup pangsit sayur yang sudah saya buat terlebih dahulu.

Seperti biasa, saya penggemar resep mudah dan praktis :p. Maka saya pikir sup pangsit sayur menjadi kombinasi yang menyenangkan bila disandingkan dengan menu pasta. What a good combination when east meet west! :) --padahal malas ribet juga--.

Ini resepnya, saya ambil dari kumpulan resepnya Ibu Andang Gunawan [teuteuuupppp].


Spicy Garlic Fetucini


Bahan:

4 sdm olive oil, untuk menumis
4 siung bawang putih, memarkan, cincang halus
2 buah cabai merah, iris halus [karena saya ingin Razka juga ikut makan, saya hanya menggunakan 1 buah cabe merah besar dan dibuang bijinya]
1 buah cabai rawit, iris halus [terpaksa saya singkirkan] :p
50 g jamur kancing segar, kupas kulit arinya, iris tipis sesuai bentuk jamur
300 g fetucini kering, rebus aldente
1/2 sdt garam
2 sdm keju parmesan parut untuk taburan, jika suka


Cara membuat:

- siapkan semua bahan sesuai resep
- panaskan minyak zaitun, tumis bawang putih hingga harum dan kekuningan. masukkan cabai dan jamur, aduk dan masak hingga jamur matang
- masukkan fetucini dan garam, aduk rata. angkat, sajikan panas, taburi keju parmesan jika suka. untuk taburan bisa ditambahkan peterseli atau oregano kering.


Komentar suami sih "wuenak", semoga bukan sekedar menghibur :)

Senin, 18 April 2011

Hmmmm sudah lama saya tidak mengunggah hobby saya mencoba resep-resep masakan. Ada beberapa yang mau saya borong sekalian di posting ini.
Terkini adalah ketika saya terkenang masa kecil, saya sering menjajakan kue bikinan ibu saya Bolu Kukus. Akhir-akhir ini bolkus dengan warna cantik dan merekah sempurna rupanya ingin sedikit menggeser keberadaan kue mangkuk imut dari barat, Cup Cake. Banyak teman yang berlomba menampilkan kue Bolu Kukus buatannya. Meski saya juga ingin eksis dengan bolu kukus di masa kanak-kanak, namun kemalasan saya mengalahkan keinginan tersebut. Untung saya mendapat inspirasi dari buku resep yang baru saya beli, Koleksi Sedap. Bolu Kukus Duo nya tidak dibuat dalam mangkuk-mangkuk kecil melainkan dengan cetakan loaf. Ide cemerlang buat pemalas macam saya ini qiqiqiiii.....

Taraaa.... ini hasilnya. Done in the 60 minutes

Ada beberapa hal yang mungkin tidak sesuai dengan resep dan sedikit menimbulkan rasa was-ws akan kegagalan. Misalnya coklat pasta yang dibutuhkan sebagai pewarna coklat saya ganti dengan lelehan dark chocolate, sehingga mungkin adonan akan sedikit lebih berat. Ketika kue jadi, yang jadi tanda tanya justru..... gambar di buku resep kue akan jadi tanpa merekah, tapi mengapa kue saya merekah sempurna?

Family Trip

Yippeee akhirnya punya kesempatan trip ke negara tetangga mengajak bapak ibu dan Razka tentunya. Mengingat ini adalah budget travelling jadi koper dikorbankan agar lebih pepak dan berdesakan, antara baju dan bekal.

Terus terang saya tidak pernah merasa memiliki hadiah yang pantas bagi kedua ortu saya, Tapi semoga trip ini dapat menjadi penghiburan dan ajang refreshing bagi mereka. Seumur hidup mereka belum pernah ke luar negeri. Saya ingin di masa tua beliau, ada kenangan manis bepergian ke luar negeri bersama anak dan cucu :) Meski tetap dengan cara yang sederhana.

Singapura menjadi tujuan kami, karena negara kecil ini cukup punya banyak perbedaan dengan Indonesia meski jarak antara kedua negara ini tipis. Kebetulan Razka menyukai alat-alat transportasi jadi saya berencana mengajaknya berkeliling kota dgn public transportation baik itu MRT, LRT, ataupun bus. Selain itu saya juga ingin memuaskan keinginan Razka main ke kebun binatang, tentunya dengan suasana berbeda dibanding kebun binatang di Jakarta.

Kenyamanan berjalan-jalan di negeri Singa ini adalah udara yang jauh lebih bersih dari Indonesia, meski kadang kami harus berjalan agak jauh dari stasiun kereta ke tempat tujuan. Tapi ini baik bagi Razka mengajarkannya menghargai alam dengan tidak membuang sampah sembarangan serta mengajarkannya menjaga kebersihan karena bak sampah hampir dapat ditemui di setiap sudut.

Melihat hal ini membuat saya berkhayal andai Jakarta sebersih ini, wow.... saya yakin devisa negara akan jauh meningkat. Karena terus terang kalau untuk urusan belanja dan harga, saya lebih memilih belanja di Jakarta. Begitu juga untuk wisata kuliner. Jakarta memiliki jenis dan tempat makan yang jauh lebih beragam dengan harga yang sangat bersahabat. Belanja barang branded, menurut saya Jakarta juga gak kurang-kurang ya koleksinya.... Kelebihan Singapur adalah mampu membuat pelancong melakukan perjalanan dengan nyaman. Wong namanya varian hewan di zoo nya juga lbh bagus di TSI. Singapur juga andal untuk urusan transportasi umum yang terintegrasi. Saya juga berandai-andai agar potensi TMII sebagai mini Indonesia dioptimalkan dari sisi kebersihan, kerapihan, dan kelengkapannya, pasti bisa jadi pusat studi dan kunjungan anak-anak yang ingin belajar mengenai budaya dan ilmu pengetahuan. Sayang ya yang menggarap potensi ini semua rasanya kurang profesional atau memang masyarakat kita belum mengenal budaya menghargai dan menghormati tempat wisata umum. At least menjaga kebersihan aja dan menimbulkan rasa memiliki yang tinggi sehingga ada keinginan merawatnya bersama-sama.


 Ach terlepas dari hasrat terpendam saya untuk Jakarta, saya bahagia karena pada kesempatan ini saya bisa sedikit memberikan suasana lain dalam kehidupan orang tua saya. Juga pengalaman baru bagi Razka, semoga terkesan ya nak.... kapan-kapan, InsyaAllah kita bisa liburan ke tempat yang lebih menarik ya....

Jumat, 15 April 2011

My spiritual journey

Alhamdulillah.... sepertinya hanya kata ini yang mampu mengungkapkan betapa bersyukurnya saya --akhirnya-- 21 -29 Maret 2011, mendapat kesempatan berUmrah. Meski hanya sendiri -tanpa ditemani suami atau keluarga-. Orang-orang boleh bilang saya norak dengan kebahagiaan ini. Tapi jujur perjalanan ini memang menimbulkan perasaan yang dahsyat bagi saya, kenikmatan yang tiada tara. Tidak terungkap secara kasat mata tapi rasanya ada di "dalam" sini, lubuk hati terdalam.

Sekarang saya baru tahu mengapa banyak orang yang sangat memimpikan berumrah atau berhaji, dan selalu rindu untuk kembali lagi berkunjung ke tanah suci, padahal sudah berkali-kali pergi. Meski saya juga memiliki keinginan yang sama, tapi saya pikir saya masih bisa menunda mewujudkannya sampai beberapa tahun mendatang. Namun kenyataannya ketika ada kesempatan itu, saya tidak sabar dan sangat tidak ingin menyia-nyiakannya. Meski demikian tetap ada sedikit rasa bersalah yang terselip kepada kedua orang tua saya, niatnya ingin mengumrahkan atau menghajikan mereka terlebih dahulu. Maaf ya pak... bu... rizkinya baru cukup untuk seorang.

Beberapa hari menjelang keberangkatan, hati saya berdebar tidak seperti biasanya. Antara rindu pada tanah suci, juga pedih meninggalkan Razka untuk 9 hari. Saya hanya bisa berdoa, memohon kekuatan dan keteguhan niat. Puji syukur kehadlirat Yang Maha Kuasa, Maha Penjaga, hanya pada Nya saya menitipkan keluarga dan harta. Alhamdulillah sampai hari H saya diberi kelancaran urusan.

Sebenarnya sebelum saya menjejakkan kaki di tanah Haram, keharuan sudah menyeruak memenuhi dada saya. Begitu kalimat talbiyah dikumandangkan serasa ingin langsung menumpahkannya dalam butiran tetes air mata. "Labbaik Allahuma labbaik, Labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wanni'mata laka wal mulka, laa syariikalak" --Aku datang memenuhi panggilanMu Ya allah, aku datang memenuhi panggilanMu, aku datang memenuhi panggilanMu tidak ada sekutu bagiMu, aku datang memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu--. Apalagi ketika di hadapan saya berdiri Ka'bah dengan segala energinya, seketika itu juga kalimat tasbih, tahmid dan takbir tiada henti mengalir dari mulut saya, serasa berkumur membersihkan mulut saya dari ghibah dan kata yang sia-sia yang pernah dikeluarkannya.

Rangkaian umroh wajib kami lakukan langsung setibanya di Mekkah, pukul 2 pagi. Kepenatan dalam perjalanan mendadak sirna terbayar dengan kekhusukan ibadah. Ternyata semakin hari kecintaan kami pada baitullah semakin kuat. Terbukti ketika saya dan beberapa teman melakukan umroh sunnah dan tawaf wada'. Makin berat berpisah. 4 malam berlalu kami harus melanjutkan perjalanan ke Madinnah. Dalam doa perpisahan kami senantiasa berucap "Yaa Allah janganlah ini kunjungan yang terakhir bagi hamba. Ijinkan hamba, anak cucu hamba, serta keluarga hamba berkunjung kembali ke tanah HaramMu. Luaskanlah rizki hamba untuk memenuhi setiap undanganMu Yaa Rabb. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui doa orang-orang yang memohon". Amiin Yaa Rabb.

Perjalanan Mekkah - Madinnah memakan waktu sekitar 6 jam, perjalanan panjang ini tidak terlalu mulus dan kami harus siap melaksanakan sholat di musholla kecil yang kondisinya cukup memprihatinkan. Suhu di Madinnah juga relatif lebih dingin, 20 derajat celcius. Terus terang saya tidak siap dengan pakaian hangat.

Hari pertama di Madinnah, ada insiden kecil, kawan perjalanan saya kehilangan kameranya. Hal ini cukup membuatnya terpukul dan membuat kami tertinggal rombongan. Untungnya, Ali, muthawif kami menghibur kami dengan menyarankan kami untuk langsung ke Raudah. Dengan modal nekat dan mengucap Bismillah... kami beranikan diri melakukan kunjungan ke Raudah berdua saja. Deg-degan karena blank menghadapi 'medan' yang akan kami tempuh. Lagi-lagi Allah menunjukkan kecintaanNya kepada kami. Kami dipertemukan dengan seorang ibu muda yang juga terpencar dari rombongannya, tapi sudah punya pengalaman masuk halaman --raudah-- Masjid rumah Rasulullah, dengan sedikit bersabar, kami melenggang menuju Raudah dan sholat sunnah tanpa rintangan berarti.

Saya memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW berikut sahabat Abu Bakar As Siddiq Ra dan Umar bin Khatab Ra. Serta sujud memohon ampunan Allah SWT. Allah SWT berjanji siapa yang mengucap salam dan shalawat kepada Rasulullah berikut Abu Bakar dan Umar, maka Allah SWT akan meminjamkan jasad beliau untuk menjawab salam kita. Subhanallah.... dijawab salam dari pacar aja sudah gembira ria apalagi dijawab salam oleh Rasulullah.

Hikmah tidak saja kami dapat ketika berada di masjidil Haram maupun Nabawi ketika melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah. Namun banyak hikmah yang kami peroleh juga dalam perjalanan ziarah ini. Salah satunya adalah bagaimana perjuangan Rasulullah membela agamanya serta kecintaannya pada ummat lillahi taa'la. Mengapa Allah memerintahkan Rasul hijrah dari Mekkah Al Mukaromah ke Madinah. Bagaimana perjuangan Siti Hajar berlari antara bukit Safa dan Marwah demi buah hatinya Ismail. Banyak hal yang bisa dipetik. Most of all adalah ketakwaan kita, kecintaan kita yang semata hanya kepada Allah SWT dan RassulNya.

Saya ikhlas bila ada sebagian orang akan mengatakan apa yang saya ungkapkan sebagai perbuatan riya atau pamer. Tapi sesungguhnya, dengan berbagi pengalaman ini merupakan ungkapan syukur saya yang berlimpah. Saya ingin men-encorrage sebanyak-banyaknya kepada teman-teman muslim. Bahwa sebelum menjenguk Ka'bah, maka semua perjalanan berkunjung ke negara-negara lain tiada bandingnya. Betapa kita, sebagai muslim, wajib melaksanakan salah satu rukun Islam ini, setidaknya sekali seumur hidup, jika mampu. Selama ini banyak doa-doa kita lebih diarahkan pada urusan duniawi, namun berapa banyak dari kita yang memohon dilapangkan rizki agar dapat berkunjung ke Baitullah? banyak yang pasrah dengan persyaratannya yaitu "jika mampu". Namun tidak disempatkan. Sehingga banyak yang mampu travelling ke banyak negara atau tujuan wisata dalam satu tahun, namun belum mampu berumroh. Bayangkan bila rizkinya itu dikumpulkan saya yakin mereka bisa berUMROH setidaknya sekali dalam setahun. Allah Maha Kaya.

Banyak juga dari kawan saya yang beralasan, "nanti deh kalau sholat gue sudah bener baru gue umroh atau haji". Padahal kalau kita balik, dengan berumroh atau berhaji maka akan terus memotivasinya untuk melakukan sholat atau ibadah lainnya dengan jauh lebih baik lagi. Subhanallah... apakah tidak membuatnya makin menjadi pribadi yang BENAR?

Tidak sedikit yang berkata "belum mendapat undangan Allah SWT", sesungguhnya Allah SWT telah menebar undanganNYA ke muka bumi kepada semua ummat tuk berkunjung ke Baitullah, hanya terkadang tanpa disadari kita tidak memanfaatkan undangan Beliau dengan baik, sehingga sering terlewat.

Ketika saatnya harus -kembali- berpamitan pada Madinnah Al Munawwarah rasa haru kembali memburu relung dada saya sehingga harus meminta mata tuk menahan butiran air yang akan tumpah. Dalam doa saya di akhir Subuh "Yaa Allah... ampunilah dosa-dosa hamba yang bak buih air laut. Berikanlah nikmat sehat, luaskanlah ilmu pengetahuan bagi hamba, dan lapangkanlah rizki hamba, kembalikanlah hamba ke tanah haramain. Sesungguhnya hanya kepada Engkaulah hamba memohon ampunan, kepada Engkaulah hamba mengadu dan meminta pertolongan. Sesunggguhnya Engkaulah Zat Yang Maha Mengetahui doa-doa orang yang memohon"

Meski berat meninggalkan tanah suci, tapi ada kegembiraan yang menyeruak, yaitu harapan terbayarnya rindu saya pada Razka, si buah hati.

Menapakkan kaki di tanah air, saya tahu kepulangan saya ini adalah hutang ibadah terbesar yang akan saya pikul. Menjadikan saya pribadi yang lebih luhur dan ibadah yang istiqommah. Saya akan memasuki ujian-ujian yang tidak semakin sedikit. Hikmah umrah harus menjiwai setiap langkah yang saya ambil. Meresapinya dalam setiap pijakan kehidupan saya. Tidak mudah tapi ini bukti syukur saya atas nikmatNya yang begitu besar.

Mata saya bergerak liar diantara penjemput. I really miss my son. MasyaAllah.... Razka...!!! jerit saya girang ketika melihat sosok laki-laki kecil berhambur ke dalam pelukan saya, dan tangis haru meleleh diantara kami. Ada janji di hati untuk menjadi lebih baik baginya, bagi Razkaku, kedua orangtuaku, dan suamiku.

Akhirul kata...

Segala puji bagi Allah yang telah menolongku meneyelesaikan ibadah umrahku dan menjagaku dari derita perjalanan sehingga aku kembali kepada keluargaku. Yaa Allah berkahilah hidupku sesudah umrah dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang shalih.

Rabu, 20 Oktober 2010

Love Letter: Counting Days

Yeeaaahhhhh tinggal 9 hari lagi. Menjelang kemunduran diri saya ini, saya menjadi lebih sensitive. Saya merasakan ada perubahan sikap teman-teman disini. Whats wrong dudes....???

Ruangan ini makin terasa dingin, sedingin sikap mereka ke saya. I feel like a vanish girl.

Tapi biarlah, saya tidak merasa melakukan hal yang salah. Saya melakukan semua tugas yang diberikan ke saya dengan sepenuh hati, serius dan tulus. Bahkan saya sangat takut bilamana saya melakukan kesalahan. Selama ini saya berupaya memitigasi kemungkinan salah. Tapi saya juga sadar bahwa ada pihak-pihak yang mencari setiap celah saya, sekecil apa pun serta siap mem-blow up-nya menjadi risiko paling kritis. *helanafaspanjang*

Saat ini saya lebih konsentrasi kepada hal yang akan datang, yang akan saya tinggali, dan yang akan saya jumpai di tempat lain. Perjuangan saya setelah ini --mungkin-- akan lebih berat. Ada passion yang harus saya tinggali, tapi saya yakin ada moment penting yang akan saya sesali bila saya lewati begitu saja. Kebersamaan dengan Razka dan menghabiskan waktu bersama kelihatannya juga merupakan hal penting dalam hidup saya. Saya menyadari saya meiliki keterbatasan sehingga tidak dapat meraihnya dalam masa yang bersamaan. Saya meyakinkan --lagi-- bahwa ini sudah menjadi pilihan.

Bila.... sudah tidak ada 8, 7 , 6, 5, 4, 3, 2, hari lagi... tapi sudah saatnya saya menutup cerita disini dan membungkusnya dalam kotak kenangan. saya hanya dapat menuliskan beberapa kalimat perpisahan bagi semua yang telah menyesakin memori saya selama 8 tahun dengan hal-hal fantastis.

Before I go, I wanted to let you know how much I have enjoyed my time here. Thank you all for your support, patience, and friendship over the past year. Please kindly accept my sincere apology for any wrong doings along the way that I might have done. You are a special group of people and I will definitely miss you.

Love -WDS-

Dan saya menyadari bahwa precious are all things that come from friends. I'm really gonna miss u all.

Muach muach muach
*kissnhug*


Senin, 04 Oktober 2010

Hari yang Aneh

Hmmmm hari ini terasa membingungkan. Tiba-tiba jantung saya terpacu lebih cepat. Perasaan hari ini lebih bungah dari biasanya. Jangan-jangan sesungging senyuman terukir di bibir saya. Kenapa ya....?????

Saya berusaha mengingat-ingat kejadian apa yang mengakibatkan itu semua ya....
Email kah?
Terima telepon?
SMS hadiah kah?
atau bertemu sesuatu atau seseorang kah?

Pokoknya hari ini saya serasa kembali muda deh. Seperti menemukan kembali rasa yang pernah hilang. Ow ow ow.... Ada aliran halus yang mampu menggetarkan tubuh saya dan menegakkan bulu roma *halah*

Dooohhhh apa sih?????
Yang pasti suka, suka, suka....
Tapi.... andai saya tahu dan dapat mendeskripsikannya, pasti saya akan merahasiakannya.
Benar-benar hari yang aneh.

Jiiiaaaaahhhhhh...... :D

Gedebug *apatuh?*

"Love Letter"

Aduh baru sempat nulis lagi nih. Ada kabar gembira yang akan saya sampaikan. Tanggal 21 September lalu, saya menerima Surat Persetujuan Permohonan Pensiun Dini yang saya ajukan tepat di usia saya ke 40. Masa kerja saya akan berakhir efektif di akhir Oktober 2010.
Jujur agak bingung mengungkapkannya, karena saya bahagia sekaligus sedih.


Seneng banget karena saya akan punya banyak waktu bersama Razka. Berperan sebagai ibu rumah tangga sejati --really????-- heheheh..... punya banyak waktu mewujudkan impian saya yang sempat tertunda karena keterbatasan waktu, sekaligus pengusaha [insyaAllah].


Sedih juga.... karena -jujur- perusahaan ini sudah seperti rumah kedua bagi saya, begitu banyak kenangan yang telah mengisi sebagian memori saya selama 8 tahun terakhir ini. Teman-teman, pengalaman, suka... duka.... Bukan ngada-ngada, bahkan saya sering curi waktu cuti untuk berkunjung ke kantor, sekedar melepas kangen. Jaminan, kelak saya akan sangat merindukan kegiatan CSR yang pernah saya lakukan, meski ada yang meragukan dedikasi saya di kegiatan ini. *nyengirdulu*


Bagi saya 8 tahun ini belum cukup untuk memuaskan passion dan mencapai cita-cita saya, tapi saya juga tidak ingin menyesali keputusan yang telah saya buat. Saya siap mengambil segala resiko dan menjadikannya hikmah. Berkali-kali saya meyakinkan diri saya bahwa ini bukan keputusan emosional. Ini adalah cara terbaik bagi saya, keluarga dan perusahaan.


We can't win at all. Setiap keputusan harus didasarkan pada berbagai kepentingan dari segala arah dan skala prioritas. Kalau ada yang harus dikorbankan, yah memang itu adalah resiko dari sebuah keputusan. Jangan dijadikan penyesalan. Tapi terus mencari celah positifnya.

Saya berharap pihak-pihak lain mendukung dan dapat menyikapinya dengan positif.

Hmmmm siap-siap dulu ach..... kita lihat menjelang 'perpisahan' nanti.